Curhatan Pak Uber #1

.Intro

Semenjak naik uber sudah hampir 1 tahun, gw dapet banyak cerita dan pengalaman para driver Uber. Cerita yang mereka lontarkan banyak ragamnya, ada yang cerita sedih, cerita seneng, cerita cinta, cerita keluarga, cerita kantornya, dan banyak lagi. Banyak dari beliau yang cerita dengan sendirinya ataupun pada akhirnya cerita karena “terpancing” pertanyaan pertanyaan gw yang kadang meledak-ledak.

Jadi inget waktu itu Project Manager gw pernah randomly ngomong ke gw sebelum pulang kantor: “Semalem aku naik Uber, dia bahas tentang kamu, katanya kalo lagi bawa si Mas Akhmad dia suka ga konsen nyetir karena kamu nanya ini itu dan minta ceritain ini itu hahaha”. Seketika kaget dan ngga kaget. Kaget karena segitu berkesannya bacotan gw ke driver itu dan ngga kaget dia bisa ngomong gitu karena bacotan gw emang meledak-ledak akibat ke-kepo-an gw sama kehidupan mereka para driver Uber.

Percaya ngga percaya, banyak se banyak banyak nya cerita para driver uber yang ada di database gw sekarang. Semuanya masih gw ingat dengan jelas. Kalau kebetulan gw naik driver yang sama dengan yang tempo hari, cukup dengar suaranya ketika ngomong, gw langsung bisa nebak dia ini pernah cerita apa ke gw.

.Pre-Uber

Iya, gw bisa tau mereka pernah cerita apa ke gw cuma dari suaranya aja. Pernah ketika malam itu gw naik dari kantor di bilangan Alam Sutera. Setelah naik dan ngobrol ringan sedikit, gw seperti nya inget sama suara pak Uber ini. Gw inget dari suaranya, bapak ini pernah cerita ke gw bahwa beliau sebelum ngUber kerja jadi delivery boy di Bakmi GM.

gw: “Bapak sebelumnya jadi delivery boy di Bakmi GM Supermall Karawaci ya?”; dia: “Wah iya Pak bener, kok tahu pak?; gw: “Iya kan bapak dulu yang cerita sendiri ke saya”; dia: “Wah Bapak ini inget aja ya pak”; gw: *ketawa setan*

Ada lagi waktu itu, gw naik Uber nya driver mobil jemputan salah satu Bank Swasta besar hasil merger antara bank swasta Malaysia dan bank swasta Indonesia. Beliau sudah bekerja sebagai driver mobil jemputan selama 10 tahun. Semenjak kehadiran Uber di Indonesia beliau mulai cari sampingan jadi driver Uber.

Setiap selesai kerja, apabila tidak harus lembur, beliau pulang sambil menyalakan aplikasi Uber nya. Pertama kali yang melintas dipikiran (Su’udzon) gw adalah: “Gile ni bapak mobil kantor nya dipinjem buat narik Uber”. Hasrat detektif gw keluar. Gw kepengen tau banget ini Bapak kok bisa bisa nya pakai mobil kantor buat narik Uber.

Gw: “Jadi pulang kantor langsung nyalain Uber nya ya pak”; dia: “Iya pak sekalian pulang, bagus bagus kalau dapet searah pulang saya”; gw: “Wah enak dong pak ya bisa pinjem mobil kantor buat narik Uber”; dia: “Oh enggak pak, saya ngga berani lah, ini mobil pribadi saya pak”; gw: *tengsin setengah mati*.

Beliau bisa beli mobilnya ini bahkan sebelum jadi driver Uber. Pengabdiannya di kantor membuat dia bisa dapat pinjaman untuk ambil mobil. Sekitar 2 tahun setelah dia ambil mobil, ada kesempatan untuk daftar menjadi driver Uber. Semenjak saat itu dia mulai ngUber dengan mobil pribadi nya sambil tetep ngantor sebagai driver di kantor nya.

Dua bulan setelah pertemuan pertama itu, gw ketemu lagi dengan dia. Penjemputan dan tujuan yang sama. Beliau lupa sama saya, tetapi saya ingat dengan beliau, hanya dari suaranya saja. Dikesempatan ini beliau cerita bahwa beliau sekarang sudah full time jadi driver Uber setelah satu bulan yang lalu resign dari pekerjaan nya di Bank sebagai driver. “Biar Fokus Pak” kata beliau.

.Tronton

Malam ini seperti biasa gw pulang naik Uber. Lebih awal dari biasa nya, jam 8 malam, gw order Uber setelah habis rokok setengah batang. Sambil menghabiskan rokok, gw nunggu driver Uber gw yang ternyata sudah nongkrong di halte depan kantor.

Setelah menghisap asap terakhir, buang ke asbak tong sampah halte, kemudian gw naik mobilnya. Grand Livina silver, interior bersih, AC dingin, dan ga ada bau rokok sama sekali. Yaa mungkin setelah gw naik baru deh tuh bau rokok mobilnya (lol). Semuanya oke kecuali bagian kaki kaki mobil, agak berisik ketika melewati speedtrap ataupun polisi tidur.

Seperti biasa gw mulai pembicaraan dengan menanyakan pertanyaan2 santai. Tinggal dimana, keluar jam berapa tadi, mau narik sampe jam berapa. Semua pertanyaan dijawab dengan sopan dan bersahabat dengan logat jawa yang kental. Sepertinya sih kalau menurut ilmu sok tau gw beliau berasal dari Jawa Timur atau Tengah.

Mulai pertengahan jalan, gw memberanikan diri untuk bertanya kehidupan pre-Uber beliau. Menurut cerita beliau, beliau sebelumnya adalah driver truk tronton. Setelah googling dan konfirmasi ke beliau hasil google image gw, gw sekarang bisa bedakan antara truk tronton dan truk kontainer.

19 tahun kerja menjadi driver truk tronton di salah satu supermarket hardware, banyak cerita menarik dari beliau. Pengalaman paling mengerikan yang beliau ceritakan adalah ketika berada di Medan. Ketika itu lagi di tengah kota di siang bolong. Tiba-tiba ada suara letusan dan seketika itu juga dari arah kiri meluncur sebuah peluru melewati kaca depan truk yang beliau kendarai. Peluru tersebut meluncur meninggalkan lubang besar di kaca depan dan menembus ke kaca sebelah kanan truk, tanpa mengenai beliau sama sekali.

Beliau tetap tenang dan terus fokus mengendarai truk tersebut karena khawatir apabila berhenti akan terjadi hal yang lebih mengerikan. Entah apa motif dibalik penembakan tersebut. Kemungkinan besar kejadian tersebut adalah percobaan pembajakan yang (ternyata) sudah biasa dialami para driver truk bermuatan.

Menurut keterangan beliau sih katanya sangat mudah mendapatkan senjata api rakitan di sumatera sana. Cukup dengan harga 2 juta, sudah dapat senjata rakitan lengkap dengan 3 buah peluru. I was just like.. wow. Antara ngga percaya dan amazed dan kaget. Segitu besar resiko nya menjadi seorang driver truk bermuatan lintas provinsi.

Selama 19 tahun menjadi driver truk, Alhamdulillah beliau belum pernah mengalami kecelakaan sama sekali. Walaupun pernah terjadi kecelakaan tetapi ketika driver pengganti beliau yang sedang mengendarai. Hal ini membuat saya somehow lega tidak perlu mendengarkan cerita yang lebih menyeramkan dari cerita penembakan siang bolong di tengah kota menggunakan senjata api rakitan seharga 2 juta berisi 3 peluru. Hmmm.

.PHK dan Hak

Ternyata setelah ngobrol beberapa saat, ada cerita yang lebih menyeramkan dari penembakan itu. Beliau cerita bahwa beliau di PHK secara sepihak dari kantornya.

Cerita berawal pada saat perayaan ulang tahun ke 20 perusahaan, seluruh karyawan pergi berangkat ke pulau seribu untuk outing, terkecuali 170 orang driver tronton.

Dihantui rasa bingung luar biasa, 170 orang tersebut diminta untuk mendatangi kegiatan briefing di kantor pusat. Setelah mendatangi kantor pusat yang entah kenapa sudah di jaga ketat oleh aparat kepolisian, 170 orang driver ini diminta memasuki satu ruangan secara bergantian.

Ketika masuk kedalam ruangan tersebut sudah ada 3 orang yang menunggu di balik meja. Salah satu dari tiga orang tersebut menyodorkan surat pengunduran diri untuk beliau. Alih alih penjelasan, beliau malah mendapat intimidasi untuk menandatangani surat tersebut.  Dibawah tekanan dan intimidasi yang besar dari 3 orang tersebut, beliau yang kebingungan dan kurang mengerti masalah hukum, akhirnya terpaksa menandatangani surat tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh 169 orang sisanya.

Entah apa motif dari perusahaan saat itu. 170 orang driver tronton yang sudah mengabdi selama puluhan tahun, dipaksa meninggalkan mata pencahariannya. Pada hari ulang tahun perusahaan yang ke 20, disaat karyawan lain merayakannya dengan riang di pulau seribu, 170 orang ini harus pulang dengan keadaan tertunduk mengelus dada. “Sesak Pak dada saya waktu itu” kata beliau dengan suara sedikit bergetar.

Puluhan tahun sudah abdi mereka pada perusahaan, harus kandas dalam waktu beberapa jam saja. Dari yang masa kerja 10 tahunan, sampai yang sudah 30 tahun menjadi driver (10 tahun sebelum menjadi perusahaan supermarket besar plus 20 tahun setelah menjadi supermarket besar).

Hal yang paling beliau dan teman teman nya sesalkan adalah tidak adanya pesangon bagi 170 driver tronton ini. Perusahaan sama sekali tidak bergerak untuk menyelesaikan kasus pesangon ini. Menurut beliau, perusahaan selama ini menganggap 170 karyawan ini mengundurkan diri, bukan di PHK, sehingga tidak ada kewajiban perusahaan untuk mebayar pesangon mereka. Padahal fakta nya, mereka “dipaksa” mengundurkan diri.

Sampai dengan malam ini, sudah hampir satu tahun beliau di PHK, atau mungkin lebih tepatnya, diberhentikan secara paksa. Selama itu juga 170 karyawan ini menuntut hak mereka untuk mendapatkan pesangon. Menurut keterangan beliau, dalam waktu dekat 170 eks driver tronton ini akan membawa kasus ini ke pengadilan. Sebelum nya beliau beliau ini sudah mendatangi Disnaker untuk membahas permasalaahan ini tetapi hasilnya buntu. Mungkinkah ada permainan antara perusahaan dan Disnaker? Semoga saja tidak.

Apabila semua perkataan bapak ini jujur, hilang sudah respect gw kepada supermarket hardware ini. Jujur gw sering kesini bahkan untuk sekedar cuci mata. Ayah saya neberapa kali juga beli peralatan seperti Bor, kloset kamar mandi, kabel roll, dan sebagainya. Bisa tebak ga apa nama supermarket nya?

.outro

Salah satu nasihat dari nyokap gw yang paling gw ingat: “Yang namanya Hak itu harus kamu perjuangkan, Nak”. Perkataan nyokap ini gw sampaikan tadi kepada Pak Uber. Semoga sedikit banyak bisa memotivasi beliau. Mungkin ini memang sudah jalannya beliau untuk berhenti jadi driver tronton, karena menurut beliau dulu ketika jadi driver tronton beliau tidak punya banyak waktu untuk keluarga. Yah mungkin hikmahnya beliau bisa lebih dekat sama keluarga sekarang.

Get up, Stand up, Stand up for your rights. Get up, Stand Up, Don’t give up the fight. | Bob Marley – Get Up, Stand Up

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: