Merdekakah Kami?

17 Agustus 2017.

72 tahun Indonesia merdeka. Indonesia sudah menua, tapi tetep lebih muda dari umur negara-negara barat sana yang lebih dulu merdeka dan terus berjalan maju. Merdeka adalah hasil perjuangan. Bukan sebatas pemikiran, sebuah pemberian, apalagi berharap takdir tuhan. Merdeka secara harfiah menurut KBBI adalah 1.bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri 2.tidak terkena atau lepas dari tuntutan 3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. Merdeka menurut saya adalah kebebasan: kebebasan berpendapat, kebebasan berpikir, kebebasan bertingkahlaku, kebebasan mencari jati diri, dan segala macam bentuk kebebasan lainnya yang berhak kita dapatkan selama tidak melanggar hukum negara.

Apakah benar diri kamu sendiri sudah merdeka? Sudah cukupkah semua kebebasan itu? Bukankah sebenarnya kamu belum sebebas itu? Bukankah kamu masih dihantui dengan rasa benci yang mengganjal dikepala: benci dengan pendapat orang lain yang tak sependapat denganmu, benci dengan pemikiran orang lain yang tak sepikir denganmu, benci dengan tingkah laku orang lain yang tidak sesuai dengan ke-etis-an versimu sendiri, benci dengan cara ibadat umat lain yang tak seiman denganmu, hingga pada klimaksnya: benci pada semua yang tidak seperti kamu.

Menurut kamu pendapatnya selalu salah. Bertentangan dengan apa yang diajakarkan kepadamu selama ini. Menurutmu Pendapatnya bisa menghambat perkembangan umat manusia, dapat mendatangkan kerusuhan masif dan bencana dari Tuhan. Kamu bersumpah demi Tuhanmu bahwa kamu tidak rela apabila anakmu nantinya akan menjadi seperti dia, berpendapat seperti dia, yang berlawanan dengan pendapatmu yang menurutmu paling baik dan benar.

Menurut kamu pemikirannya kolot, tidak sebebas dirimu. Pikirannya sempit dan terpaku pada aturan-aturan suku dan agama. Menurutmu dia bodoh, tidak sepintar dan sekritis kamu. Pikirannya pendek, tidak visioner seperti kamu. Dia radikal, kaum sumbu pendek, tidak mau berpikir jernih, selalu terpaku dan terbelenggu pada ayat dan dalil Tuhannya. Kamu sebarkan kepada kelompokmu yang sepemikiran denganmu bahwa dia adalah penyakit, jangan berdekatan dengannya apabila tidak ingin radikal seperti dia.

Menurut versimu semua tentangnya tidak sesuai etika dan cenderung kampungan. Tidak punya sopan santun. Bicara terlalu keras, kunyahannya berbunyi, kakinya naik satu ke kursi. Kamu jijik karena cara makannya dan pilihan lauknya, menggunakan tangan, tanpa potongan binatang, hanya tempe dan tahu, miskin. Badannya pun bau, tidak pernah mandi, tidak sepertimu yang mungkin mandi tiga kali sehari, dengan sabun cair nan wangi yang kamu dapatkan di swalayan seharga nasi bungkus sekali makan. Kamu enggan bergaul dengannya, kamu tolak ajakan ngopinya, karena jijik dengan warung kopi langganannya: kucing hilir mudik, menggesek betismu dengan bulu pada buntutnya.

Menurut kamu agamanya berisik, bernyanyi-nyanyi seperti orang karaoke, berdoa dan membaca kitab suci dengan pengeras suara, bagimu semua tindakannya mengganggu. Menuduhnya teroris, menjauhinya dan mengganggap dia juga membencimu yang notabene tak seiman. Menuduhnya meniru orang Arab, padahal agamu dari Arab juga. Kamu mengatakan agamamu paling benar, dan menyalahkannya apabila dia mengatakan hal yang serupa. Menertawainya karena mengaku dosa didalam bilik, melakukan gerakan ibadah yang aneh: Nungging, membakar dupa dan menyembah batu, semuanya kau tertawai, karena kau anggap lucu dan salah.

Semua yang tidak seperti kamu, berarti salah. Tidak pantas dijadikan teman dan tidak pantas didengar omongannya. Tidak pantas dipercaya dan dimintai pendapat. Sebisa mungkin kamu menjauhi dia, atau mungkin tetap dekat dengannya juga tidak apa-apa, asal tidak tertular bodohnya. Kamu sigap mengkotakkan dirimu dan dirinya, dia aliran A, kamu aliran B. Bak Israel dan Negara Arab, benci tapi mesra.

Apakah kemerdekaan menurut kamu hanya sebatas Belanda diusir Jepang dan Jepang di bom atom kemudian pergi? Asalkan tidak ada peluru terbang diatas kepalamu apakah itu disebut merdeka? Apakah bertikai dengan bangsa sendiri karena tak sepaham itu sebut merdeka?

Pernahkah kamu berusaha untuk paling tidak memberikan senyum ketika mendengarkan pendapat orang lain yang berbeda denganmu? Sudah cukupkah toleransimu selama ini kepada mereka yang berbeda suku, agama dan ras? Tidakkah lebih baik kamu mempelajari pemikiran orang lain yang berbeda denganmu agar kamu semakin cerdas? Relakah kamu mendengarkan umat agama lain bernyanyi di tempat ibadah mereka? membacakan ayat-ayat suci mereka dibalik pengeras suara? sampai kapan kamu mengizinkan hal-hal rumit seperti ini mengganggu pikiranmu? mengganggu waktu istirahatmu? mengganggu kemerdekaan dirimu?

Tanyakan pada dirimu, yang mengaku merdeka.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” – Bung Karno

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: