Surat Untuk Risty #2

Dear Risty,

Siang ini, di kubikal kantorku, aku menuliskan ini padamu. Beberapa kata rindu untukmu. Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Tiga hari yang lalu? Karena entah kenapa aku rindu kamu, serindu itu. Aku rindu kamu, Ris. Rindu senyummu, tawamu, tatapanmu, cara bicaramu, rindu semua tentangmu.

Aku rindu senyummu ketika menaiki mobilku, setelah seminggu tak bertemu. Aku rindu pandanganmu ketika antusias bercerita tentang kegiatanmu seminggu kebelakang. Aku rindu kekesalanmu ketika aku mencubit hidung lucumu. Aku selalu rindu semua itu.

Aku rindu wangi nafasmu ketika kamu tertidur dibahuku. Aku rindu wajah lucumu ketika aku membangunkanmu. Aku rindu ekspresi itu, ketika kamu terbangun dan bertanya: “Jam berapa ini?”. Aku rindu kamu yang selalu melingkarkan kakimu ke kakiku ketika kamu kedinginan. Aku rindu kamu yang mencari-cari lenganku dalam gelap untuk kamu rangkul dan peluk. Aku rindu kamu yang merengek padaku untuk menemanimu ke kamar mandi tengah malam, walaupun posisi kamar mandi hanya disamping tempat tidur. Aku rindu senyum gemasmu disela pertemuan bibir kita. Aku selalu rindu semua itu.

Kadang tanpa sadar senyumku terselip disela kesibukanku, ketika mengingatmu. Iya, mengingat tingkah lucumu itu, Ris. Paragraf ini pun aku tulis dengan sesekali tersenyum mengingatnya. Kamu lucu sekali, Ris =D

Tak terasa hampir setahun kita saling kenal. Aku dan kamu, bisa sampai pada titik ini, detik ini, bukan tanpa tantangan. Bukan awal yang baik, bukan suatu proses yang mudah, tapi kita berhasil lewati. Kita berhasil Ris.

Beberapa minggu terakhir ini, aku bersyukur bisa menjalani semua ini dengan lebih tenang, lebih nyaman, tak lagi merasa takut yang berlebihan, tak lagi berpikir negatif, semua itu sekarang sudah hilang. Terlepas dari mimpi buruk yang sesekali datang. Tapi apalah arti sebuah mimpi buruk jika kenyataannya baik saja? Ya ‘kan, Ris?

Sesuatu yang kamu harus tahu bahwa, kita tak layak berakhir, aku dan kamu pantas diperjuangkan. Aku dan kamu tidak pantas dirusak apapun dan oleh siapapun. Aku dan kamu harus selalu berdiri tegak menghadapi dunia dan seisinya. Aku dan kamu akan bisa bertahan terus sampai nanti. Karena aku tahu sebegitu dalamnya rasa yang kita punya, sebegitu besarnya harapan yang kita pertaruhkan. Senyumku bagi senyummu. Rasaku bagi rasamu. Mutlak, tak tergantikan.

Terima kasih Ris, kamu bersedia berjuang bersamaku, memaafkanku, memaklumiku dan sabar menghadapiku. Terima kasih Ris, kamu bersedia membantuku untuk menghilangkan rasa takutku, selalu meyakinkanku setiap hari, bahwa kita memang pantas bersama.

Sampai ketemu akhir minggu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: