“Pacar Lo Masih Perawan?”

B: “Masih kok.”

A: “Oya? Tau darimana?”

B: “Dia bilang sendiri sama gw ketika gw tanya kok, dan gw yakin dia jujur.”

A: “Hm, okay..”

***

Sebelum masuk ke dunia keperawanan, alasan gw nulis ini bukan karena mau pamer kalo pacar gw perawan ditengah-tengah merajalelanya pergaulan bebas para milenial via aplikasi bernama Tinder. Iya, sorry ya gw juga gatau kenapa bawa-bawa Tinder. Kalo urusan Tinder nanti ya di postingan lain, karena udah gw uninstall juga. Lagian, percakapan di paling atas itu bukan percakapan gw juga, cuma ilustrasi aja.

Oke lanjut, jadi gw nulis tentang ini awalnya karena ada berita lucu beberapa minggu/bulan yang lalu tentang perceraian sepasang suami-istri yang baru menikah karena pantat pasangannya ternyata hitam (belum tau? googling dah). Kemudian gw mikir, gimana ya caranya gw tau calon istri gw nanti itu pantatnya item apa ngga, korengan apa engga, bebulu apa engga, oke deh kalo bisa cek sebelumnya, lha orang cuma megang tangannya aja di geplak (gadeng).

Gara gara itu, gw jadi mikir lagi. Kalo cuma gara-gara pantat item aja orang bisa dicerein (baca: diceraikan), gimana kalo ternyata istrinya udah nggak perawan ya? bisa lebih parah dong. ya ga?

Percaya nggak percaya (bukan yang di ANTV), ternyata keperawanan itu banyak diobrolin di internet. Coba deh lo riset sono, googling, tentang keperawanan. Banyak banget tuh artikel yang ngebahas. Ada yang ngasih tau ciri-ciri wanita perawan/tidak, menanyakan masturbasi menghilangkan keperawanan apa engga, sampai tutorial mengembalikan keperawanan, semua ada disono. Sebegitu pentingnya keperawanan sampe sampe rame banget tuh yang ngebahas di internet (kaya kita sekarang neh).

Nah gw sekarang mau nanya nih, menurut lo keperawanan itu penting gak sih? gw ga mau sexists, keperawanan yang gw sebut itu berlaku buat both cewek dan cowok. Pertanyaan gw itu berlaku buat kedua belah pihak, so jangan berantem!

Beberapa mungkin jawab: “Penting!” dengan alasan ogah dapet bekasan orang, atau merasa jijik karena kalo ga perawan berarti dulunya bandel, pernah enaena sama mantan mantannya, sementara dirinya sendiri orang baik rajin solat rajin ngaji jebolan santren, yakali mau sama yang nakal.

Kemudian beberapa menjawab: “Ga Penting!” dengan alasan siap memaklumi cerah kelam nya masa lalu pasangan, atau memang karena diri sendiri juga sudah tidak perawan lagi, atau memang yaudah bodo amat rasanya ga beda beda jauh lah yang perawan sama yang engga (pernah-nyobain-dua-dua-nya detected).

Gw ga nyalahin siapa siapa. Jika menurut lo mendapatkan pasangan perawan itu menjadi achievement utama dalam hidup lo, ya boleh aja. Dan jika menurut lo memaklumi dan tetep menerima pasangan lo apa adanya meskipun disaat terakhir sebelum menikah dia mengaku nggak perawan lagi ke lo, juga ga ada masalah. You have right to choose your own path, but remember, hilangnya keperawanan itu bukan karena enaena sama mantan doang (mantan pacar, mantan hts an, mantan kakak-kakak-an dan adek-adek-an, mantan friend with benefit), tapi bisa aja karena kejahatan (perkosaan) atau kecelakaan.

Sekarang coba deh lo tanya sama diri lo sendiri, bisa ga sih lo menerima pasangan lo apa adanya?

Apa adanya itu mentally dan physically (hitam-putih pantatnya, besar-kecil kelaminnya, besar-kecil dadanya). Kalo lo merasa hitam-putih pantat pasangan lo penting untuk lo, ya lo cari tau sebelumnya, ntah gimana caranya, kalo ga sesuai ya jangan nikahin. jangan kebalik; nikahin, pantatnya item, ga sesuai harapan, trus lo ceraikan. Bego.

Apa iya sebarbar, sedangkal, sesempit itu pikiran lo? apa iya sayang dan cinta lo sama pasangan lo itu cuma sebatas warna pantat? sebatas ukuran dada dan kelamin? sebatas perawan atau enggak?

Menurut gw, ketika lo memutuskan untuk pacaran sama orang (atau menikah-untuk yang ga pacaran-langsung nikah), itu berarti lo udah siap dalam segala hal terkait dengan pasangan lo, dan hubungan kalian. Selain siap finansial dan tetek bengek teknis lainnya, lo berarti juga siap menerima sepaket masa lalu pasangan lo, termasuk masa lalu yang menyebabkan dia kehilangan keperawanannya, kehormatannya.

Karena bukan cuma gw dan lo kok yang punya masa lalu gaenak, masa lalu yang menyedihkan, masa lalu yang susah, masa lalu yang berantakan dan mungkin penuh dengan kenakalan (yang ngga nakal jangan tersinggung). Banyak kok diluar sana yang senasib, sesusah, senakal sama kita, termasuk lo (iya aja udah) dan mungkin pasangan lo.

Besides, terkait dengan keperawanan, keperawanan pasangan lo itu bukan urusan lo, bukan untuk ditanyakan, bukan untuk dicari tau, karena itu merupakan aib which is ga perlu diceritakan. Ya kecuali kalau pasangan lo berbaik hati dan setulus itu untuk jujur ke lo.

Header Photo from Flickr by Jennifer 8. Lee

Siapa lagi yang berhak bertaubat apabila si pendosa tidak? – ARA

Advertisements

4 thoughts on ““Pacar Lo Masih Perawan?”

Add yours

  1. Dari pengalaman gua sih, ketika ngejalin relasi sama cewe yang udah gak perawan lagi, relationship kalian bakalan mentoknya di trust issue. Dalam artian, okelah you guys fucked each other and of course sex is feel so good. Tapiii nih, ketika lo dan pasangan lagi menjauh dan gak saling kontekan untuk sementara waktu, apa lo bisa percaya sama dia, kalo dia bener-bener butuh ‘me time’ buat sendiri aja atau dia lagi ena-ena sama cowo laen di belakang lo? Nah loh. Your call. Di situlah butuh komitmen supaya bisa saling percaya. Entah itu pacaran, tunangan, atau yang umumnya di masyarajat, pernikahan. Tapi balik lagi ke karakter orangnya sih, komitmen apapun nggak 100% menjamin. Karena ya sejago apapun sepik-sepik si cowo mengajak ena-ena, keputusan to having sex tetep di tangan cewe. Karena kita semua cuman binatang, mamalia, yang punya hasrat dan nafsu di tingkatan primer, sama kayak makan dan minum.

    Like

    1. thanks feedback nya dan sharing pengalamannya. berikut tanggapan saya:
      1. yes, sex is good. tapi tidak seindah jika dilakukan dalam ikatan pernikahan.
      2. berelasi bukan hanya sekedar ena ena. kalo goalnya adalah ena ena banyak panti pijat yang bisa disambangi, untuk apa repot-repot bereleasi?
      3. kepercayaan selalu beriringan dengan kejujuran. komitmen saling percaya hanya menjamin 50% saja, 50% lagi komitmen untuk saling jujur. jujur dengan diri sendiri, kemudian dengan orang lain (dalam hal ini pasangan). kepercayaan akan hancur tanpa kejujuran, kejujuran akan terasa sia-sia apabila kepercayaan tidak sepenuhnya diberikan.
      4. keputusan having sex itu keputusan ke dua belah pihak, masing-masing punya porsinya. jangan sexists. terkait perselingkuhan,
      5. yang membedakan manusia dengan binatang adalah kepemilikan akal. manusia punya akal untuk memikirkan resiko-resiko yang ditimbulkan ketika terjadi aktivitas sex baik dengan pasangan sendiri (nikah ataupun diluar nikah), maupun dengan pasangan orang lain (perselingkuhan).
      6. terlepas dari itu semua, apabila kembali ke topik postingan ini, adalah bahwa ketika memilih untuk berelasi, kita harus siap dengan pasangan sepaket dengan masa lalu nya. jika tidak siap jangan berelasi (putuskan/ceraikan).

      Like

      1. 4. keputusan having sex itu keputusan ke dua belah pihak, masing-masing punya porsinya. jangan sexists. apabila yang dimaksud terkait perselingkuhan, saya setuju tapi dengan penyampaian sbb: “sebesar apapun gangguan dari luar, keputusan untuk berselingkuh tetap berada di tangan sendiri.”

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: