Smartphone tanpa media sosial, bisa?

Turning Point.

Generasi milenium sekarang identik dengan nunduk. Turun dari motor nunduk, ngerokok sambil nunduk, kerja depan laptop diselingi nunduk, biar ga awkward berdua doang sama orang di lift nunduk, semuanya nunduk mantengin smartphone masing masing. Iya kalo memang ada perlu nya (cek email kantor, koordinasi kerjaan dengan grup kantor, email dosen pembimbing, janjian bimbingan sama dosen, nanya hasil test pack pacar – amit amit –), lha ini mah kadang cuma scroll ga jelas doang. Yakga? ngaku coba dalam hati.

Waktu itu gw sempet baca artikel, bahwa menurut penelitian, para pengguna smartphone itu cenderung sering sakit leher karena keseringan nunduk mantengin smartphone nya. Kenapa gitu? Ternyata eh ternyata, ketika nunduk mantengin itu telepon pintar, kepala kite menahan berat 4 kali lebih besar dari berat sesungguhnya (berat kepala manusia 4-5 kg), begimana ga sengkle tuh leher.

Kemudian, beberapa waktu lalu gw nemu video di youtube tentang orang yang sharing pengalaman nya berhenti menggunakan media sosial selama satu taun. Hasilnya katanya sih memuaskan, misal: jadi lebih fokus dengan real life, jadi less worry about everything, jadi dapet hobi baru, jadi dapet temen baru dan banyak lagi. Gw pikir, boleh juga nih dicoba.

Kenapa gw pengen nyoba? Selain karena sering sakit leher, gw jg sepertinya sudah mulai capek dan ngerasa bego aja nge scroll timeline akun media sosial gw setiap istirahat makan siang, coffee break, diparkiran kantor sambil ngerokok panasin motor, sampe udah tiduran di kamar, timeline Instagram dan Twitter itu ga pernah lepas banget. Cape cuy.

Actions.

Gw sekarang udah sampai pada satu titik dimana gw merasa muak dan gw harus berbuat sesuatu buat kebaikan gw sendiri. Yaitu dengan memberikan jarak antara gw dan akun media sosial gw. I should stop giving too much shits about other’s internet life, and start paying more attention to the real life, my real life, other’s real life.

Gw pengen merubah cara gw menggunakan media sosial di smartphone gw. Karena logically by its name, smartphone supposed to be making us smarter, not dumber. Jadi gw mencoba menginspirasi diri gw sendiri dengan meniru si youtuber tadi sharing how he use his social media now (after 1 year hiatus from it), beberapanya yaitu:

  • Turn off notifications semua media sosial.
  • Uninstall social media apps dari smartphone.
  • Login berdasarkan kepentingan. Misal, login hanya ketika ingin posting, kemudian tidak perlu cek likes, dislikes (Facebook), retweet (Twitter) dan views (Instastories).
  • Intinya adalah: use it on purpose.

Personally, gw akan mulai dari poin pertama, matiin notifikasi. Karena gw pribadi bener-bener distracted dengan notifikasi dari akun sosial media gw. Setiap ada logo Instagram atau Twitter di panel notifikasi di device gw, gw pasti penasaran ada apa. Udah gitu recently ketika sudah ada fitur baru Instagram yaitu Instalive, setiap akun following lo live, akan ada notifikasi muncul yang memberi tahu bahwa akun tersebut lagi live. Kirain notifikasi penting, taunya..

Mulai sekarang, gausah pake notifikasi notifikasi dan gw akan buka aplikasi sosial media pada jam tertentu dan dengan durasi yang tidak terlalu lama.

Outro.

Sebagai tambahan, ada 7 hal lain yang lebih berfaedah yang dapat dilakukan dengan smartphone selain buka media sosial:

  1. Buka portal berita. Turn on notification if necessary jadi bisa tau kalo ada breaking news dan semacamnya. Ini agak bertentangan dengan kesimpulan si youtuber tadi, tapi untuk sesuatu yang sepenting breaking news bole la.
  2. Blogging dan Blogwalking. Silakan googling blog-blog bagus berbahasa indonesia maupun inggris, banyak,
  3. Browsing website yang punya artikel bagus. Gw personally suka ke tirto.id, sila cek.
  4. Flipboard. Bagi pengguna Android, aplikasi ini biasanya udah pre-installed di device. Gw pake aplikasi ini dari tahun 2014 and so far so good. Btw, Flipboard ini juga bisa diakses lewat browser di laptop atau PC, tinggal sync google account saja supaya konten yang sudah di simpan di handphone bisa singkron ketika dibuka di laptop atau PC. Mungkin Next time ya gw akan review aplikasi ini.
  5. Rearrange file system smartphone seperti: membuang files hasil download yang tidak terpakai, membersihkan gallery dari auto-downloaded images yang berasal dari WhatsApp, Line, dan messenger lain, menyortir file penting, dan hal lainnya yang berhubungan dengan file yang ada di device.
  6. Backup file system ke cloud seperti Dropbox dan Google Drive dan membuat folder yang terstruktur disana agar mudah ketika sewaktu-waktu akan diakses.
  7. Membuat reminder terkait daily activities. Ini membantu banget buat kita yang punya problem dengan short-term memory. Personally saya pakai Google Keep.

Gw sih gitu, lo gimana?

Advertisements

2 thoughts on “Smartphone tanpa media sosial, bisa?

Add yours

    1. pemakaian smartphone kembali lagi ke kebutuhan sih bro. kalo saya masih butuh untuk messenger spt WhatsApp dan Line untuk komunikasi dengan pasangan, keluarga, grup kantor dan grup keluarga. sisanya sudah saya terapkan seperti yang saya tulis di postingan ini. kapan-kapan saya lanjutkan ya bagaimana rasanya menerapkan hal-hal yang saya tuliskan diatas. thanks feedback nya brother!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: