Nadia Sang Penari (#1)

Chapter 1 – Pemuda Berkemeja Putih.

Surya kian merendah diujung sana, nyaris tenggelam disela dua buah gedung tinggi. Cahaya senja kutatap kosong, memikirkan masa depan anakku. Anakku yang keluar dari rahimku tanpa ayah, atau lebih tepatnya aku tak yakin siapa ayahnya.

Mengetahui aku hamil diluar nikah, Ayahku justru mengusirku dari rumah. Keputusannya sudah bulat, bahkan tangisan Ibuku pun tak mampu menghalanginya.

“Totalnya jadi, lima puluh ribu rupiah, Mbak”.

Lamunanku mendadak buyar. Aku segera mencabut satu lembar biru dari dalam dompetku seraya mengambil bungkusan belanjaan berisi satu pak kondom dan sebungkus rokok.

“Terima kasih.” Kataku kepada kasir, sambil bergegas keluar dari minimarket tak jauh dari rumah kontrakanku.

Aku mempercepat langkah. Jarak menuju klub telanjang tempatku bekerja masih cukup jauh. Di dalam klub ini aku bertaruh bermodalkan tubuhku. Demi menghidupi putri kecilku, kusajikan kenikmatan semu kepada para lelaki malam. Munajat doa mengiringi langkah kaki, semoga ada yang membawa uang cukup banyak untuk berkamar denganku malam ini.

“Cepat Nadia! Kamu terlambat 10 menit!” Ujar Kris setengah membentak, satu detik setelah aku mendorong pintu masuk. Kris merupakan manajer operasional merangkap kepala keamanan klub ini. Bertubuh kekar, mirip instruktur kebugaran.

“Siap tampan!” kataku menggoda sambil bergegas menuju ruang ganti.

***

Tak perlu waktu lama untuk berganti. Aku sudah memakai busana tariku dari rumah, kemudian kulapis dengan sweater dan celana jeans. Perlahan kumasuki satu dari sepuluh kandang tari yang sudah disiapkan sebelumnya. Sambil diiringi alunan musik aku mulai menari pelan. Lingerie merah mudaku bersinar terang dibawah redupnya lampu kandang tari yang tergantung tepat diatas kepala.

Kandang Tari atau Kandang, sebutan singkat para pengunjung disini. Lebih mirip sel penjara, namun jerujinya berwarna keemasan berbahan besi. Berbentuk kubus, berlantaikan kayu dan beralas karpet merah. Jumlahnya ada sepuluh, yang masing-masingnya diisi oleh satu penari.

Di luar kandang para pengunjung sudah mulai berdatangan. Dari balik jeruji terlihat beberapa meja sudah terisi dengan para paman dari pecinan pinggiran kota. Mereka mulai menatap berkeliling, dari satu kandang ke kandang lainnya. Beberapa memaku pandangannya kearah kandangku, sambil menunjuk dan berbisik satu sama lain.

Kata Kris, banyak pengunjung yang menyukaiku. Usia sembilan belas tahun, kulit putih mulus, tubuh mungil dengan payudara besar agak menurun dipuncaki puting merah muda menonjol dan rambut dimerahi bak pemeran film porno kategori Red Head menjadi alasan liarnya fantasi para pria diluar kandang ketika melihatku, menjadikan aku salah satu penari terfavorit disini.

Selang lima belas menit pertama, tarianku terhenti sejenak, seorang pemuda tampan berkemeja putih beranjak dari kursi barnya dan menyambangiku ke dekat kandang tari, melambaikan lima lembar merah. Berbisik, memintaku melepas bra.

“Perlihatkan padaku isinya.” bisik pemuda itu.

“Terima kasih sayang, dengan senang hati.” kataku sambil tersenyum genit.

Tanpa ragu kuturuti permintaanya. Kulepas kaitan bra yang terletak didepan, kemudian kulemparkan kepada pemuda tadi yang masih berdiri terpaku melihatku satu meter dari kandang.

“Simpan untukmu sayang.” godaku pada pemuda itu, membuyarkannya yang sedang terpaku.

***

Payudaraku kini terpampang tanpa pelindung apapun, lebih cepat dari jadwal seharusnya. Semua mata tertuju padaku. Iringan musik yang sebelumnya terdengar lebih kecil dari suara para tamu, kini terdengar jelas sekali. Percakapan dan tawa berganti dengan suara decak bergantian dari tiap meja yang ada.

Lampu sorot yang diperintahkan Kris untuk disorotkan padaku menimbulkan efek kilau pada tubuh dan payudaraku yang sebelumnya sudah kulumuri minyak. Membuat mata para tamu menyipit namun tak berkedip.

“Wow…” ucap pemuda berkemeja putih tadi, masih terpaku sejarak satu meter dari kandang sambil tetap menggenggam bra milikku.

“Kenapa sayang? Tunggu aku dimejamu ya..” balasku padanya, sedikit menggoda.

Sambil terus menari, satu dua bulir keringat dengan lembut melewati ujung puting payudaraku, kemudian menetes jatuh menimbulkan bercak pada dasar kandang. Para paman dari pecinan menatap seksama payudaraku, sambil tetap saling berbisik dan tertawa.

Mereka pasti tidak sabar menunggu acara puncak yang beberapa menit lagi akan dimulai. Acara yang paling ditunggu para tamu.

***

Pukul satu malam. Tiba saatnya untuk kami keluar dari kandang tari. Menemui para tamu di meja mereka, memberikan kesempatan pada mereka untuk mencicipi payudara kami. Peraturannya, lima orang pertama yang bersedia membayar masing-masing satu lembar biru akan mendapatkan kesempatan untuk menyentuh dan memainkan payudara kami dengan bibir dan lidah mereka, hanya selama 60 detik.

Bagiku ini merupakan kesempatan untuk mencari uang tambahan di luar kandang tari. Uang tambahan yang jumlahnya selalu lebih besar dari tip yang diberikan ketika didalam kandang.

Demi menghormati lima ratus ribu yang sudah dikeluarkan oleh pemuda berkemeja putih tadi, aku memutuskan untuk mendatangi mejanya pertama kali. Kini Ia telah berpindah dari Bar ke sebuah meja dengan sofa panjang.

Aku kemudian duduk disampingnya. Mengecup kecil pipinya kemudain menyenderkan kepalaku kebahunya.

“You know the rules, right honey?” kataku mencoba membangun percakapan.

“Yes. lima puluh ribu untuk lima orang pertama selama 60 detik, bukan?” katanya sambil memainkan putingku, membuat gerakan memutar dengan jari telunjuknya.

Aku mengangguk sambil tersenyum, “Iya, benar sekali.”

“Okay, masalahnya, Aku sudah menyampaikan pada Kris bahwa aku akan membayar 250 ribu rupiah untuk menggantikan lima orang. Berarti 300 detik untukku, ya?”

Aku kaget mendengarnya. Nampaknya pemuda ini memiliki banyak uang. Selama aku bekerja disini tidak pernah ada yang rela mengeluarkan uang lebih dari 300 ribu untuk satu orang penari.

“Hahaha.. this all yours, Babe.” kataku sambil mendekatkan payudaraku kearahnya.

Tanpa banyak bicara bibir nya sudah mendarat diatas salah satu putingku, menjilat dan sesekali menggigit lembut.  Kedua tangannya yang bebas bergerak salah satunya kini meremas sebelah payudaraku yang tidak dijilatinya. Jari telunjuk tangan lainnya Ia masukkan kesela-sela bibirku, sebuah kode meminta aku untuk menghisap jarinya.

Meskipun dia adalah pelangganku, entah mengapa aku merasa nyaman sekali. Kelembutan sikapnya dan bahasa tubuhnya ketika merabaku membuat jantungku berdegup kencang. Sudah lama aku tidak merasakan kenyamanan ini.

Stopwatch yang ada ditanganku sudah menunjukkan angka lima menit, kemudian lebih sepuluh detik, lalu 20 detik, berlangsung terus. Aku kehilangan diriku, mataku sesekali memejam. Birahiku memuncak setelah sekian lama tertidur. Aku membiarkan Ia terus bermain dengan bibir dan lidahnya dibawah sana, dari kiri ke kanan, kemudian kembali ke kiri kemudian ke kanan lagi. Aku tidak mau Ia berhenti.

***

“Hey!!” Suara keras Kris membuat mataku yang setengah terpejam kini membuka sempurna.

“Come On, Dim, sudah 300 detik. Kamu sudah membuat janda anak satu ini mendesah keras dan kebasahan. Untung desahannya tidak terdengar ke meja lain. Dasar kamu, Dim, tidak pernah berubah, selalu saja bisa membuat wanita bersenang-senang!” Kata Kris, sambil tertawa dan menarik kerah bagian belakang kemeja pemuda itu, membuat putingku yang sedang digigit juga ikut tertarik.

“Hey, Kris! Sakit tahu!” protesku padanya, sambil mengecek celana dalamku yang memang sudah basah tak karuan.

“Ayolah Kris, Nadia sedang mendesah kesenangan ketika kamu menarik kerahku tadi. Kamu sudah merusak kesenangannya Kris.” kata pemuda itu menyambut perkataanku sambil sedikit tersenyum.

“Bukan begitu, Kamu menggigit putingku bersamaan dengan Kris yang menarik kerahmu. Sakit rasanya digigit kemudian ditarik! Lagipula tidak ada yang merasa kesenangan!” kataku sedikit marah, “Darimana pula kamu tahu nama asliku?”

“Come On, Darling, Take it easy. Kris yang memberikan semua informasimu. Kamu kenal Kris kan? Dia pria yang selalu butuh uang. Nama dan nomor handphone mu kutukarkan dengan uangku, tentu saja Ia tak akan menolaknya. Bukan begitu, Kris?” Kris mengangguk dan tertawa kesenangan sambil berjalan kembali ke bar, mengawasi yang lainnya.

“Hahaha.. Tenang, aku tidak akan menerormu walaupun aku tahu nomor handphone mu.” Kata pemuda itu, mencoba menenangkan. “Perkenalkan, Namaku Dimas, Dimas Kartowardoyo.”

“Nadia, Nadia saja tidak ada kepanjangannya.” Jawabku singkat sambil membersihkan payudaraku menggunakan handuk. Kartowardoyo? Sepertinya familiar. “Sudah berapa kali kamu kesini? Sepertinya aku belum pernah melihatmu?”

“Aku sering kesini, tapi aku lebih sering berada di kantor lantai atas. Aku belum pernah menontonmu menari secara langsung, hanya dari CCTV.” Jawabnya, “Aku penasaran, banyak tamu yang bilang kamu itu luar biasa cantik. Ternyata ketika aku melihatnya langsung, mereka benar.”

“Hahaha.. Kamu orang ke 78 yang bilang seperti itu, Dim. Sama saja kamu seperti yang lainnya.” Sambil terus berpikir dan mengingat siapa itu Kartowardoyo, “Kamu bilang tadi kantor? Memangnya kamu berkantor disini? Maksudku, mengelola klub ini?”

“Iya aku berkantor disini, tapi hanya datang sesekali.” Jawabnya singkat.

“Seperti itu ya.” Jawabku tak kalah singkat, meskipun masih penasaran dengan pemuda berkemeja putih bernama Dimas Kartowardoyo ini, “Sudah cukup kan? Aku kembali kebelakang ya untuk mandi”.

“Baiklah, Terima kasih, Nadia! You’re the best!”

Aku membalasnya dengan senyuman kemudian beranjak dari sofa menuju ruang ganti untuk membersihkan diri.

***

Sesampainya di ruang ganti, aku teringat sesuatu. Bra ku masih ada ditangan pemuda bernama Dimas tadi. Aku bergegas kembali menuju meja tempat Ia duduk tadi. Namun sayangnya Dimas sudah tidak ada disitu.

Aku kemudian bergegas ke meja kris, “Kris, kamu lihat dimana tamuku tadi? Pria berkemeja putih, Dimas.”

“Sudah pulang, Darling. Baru saja Ia keluar melewati pint…” belum selesai Kris bicara aku refleks keluar untuk mengejar Dimas.

“Hey! Kamu mau keluar dengan keadaan tidak memakai atasan apa-apa seperti itu?”

Terlambat. Aku sudah membuka pintu depan tanpa atasan selehaipun yang menempel dibadanku. Dua petugas parkir dan beberapa pengemudi ojek online yang berada diluar melotot melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya.

Salah seorang petugas parkir yang melamun melihatku, tiba-tiba mengaduh kesakitan karena kepalanya terkena palang pintu parkir yang sedang menutup, seorang lainnya menertawai.

Aku kemudian berhasil masuk dan menutup kembali pintu klub sesaat sebelum salah seorang pengemudi ojek online mengangkat handphone nya untuk memoto diriku. Untung saja.

***

Aku kembali ke ruang ganti dengan kesal. Bra ku terbawa oleh Dimas. Padahal aku tadi cuma bercanda saja ketika aku memberikan itu untuknya.

Selesai mandi, aku bersiap untuk pulang. Untungnya aku memakai Sweater yang lumayan tebal, jadi tak apa lah tanpa menggunakan bra.

Pukul tiga pagi. Setelah selesai memakai celana jeans biru dan sepatu kets putihku, aku mengambil handphone untuk memesan taksi untuk pulang. Sebenarnya rumah kontrakanku tidak terlalu jauh dari sini, tetapi aku tidak berani pulang dengan berjalan kaki karena kondisi jalanan yang masih gelap.

Belum sempat aku membuka aplikasi pemesanan taksi, ada pesan masuk, dari Dimas, wah yang dicari daritadi akhirnya muncul juga.

“Nadia, Aku sudah mengirim salah satu mobilku beserta supir untuk menjemputmu pergi kerumahku. Stay with me tonight. Lima juta, Full service. Cukup? -DIMAS”

Aku nganga membacanya. Lima juta? kuyakinkan kembali mataku, pukul tiga pagi lima ratus ribu bisa saja berubah jadi lima juta. Tarifku selama ini baik yang ditawarkan Kris kepada para tamu, maupun langsung kepadaku tanpa melewati Kris, tidak pernah mencapai angka itu. Sebelum aku mengiyakan aku mencoba untuk memastikan kembali.

“Lima juta? kamu tidak salah?” balasku kepadanya.

30 detik kemudian, “Jika kurang nanti kita bicarakan dirumahku saja, supirku sudah menunggu didepan klub. Segera ya!”

“Oke Dim.” balasku apa adanya.

Setelah berpamitan dengan Kris dan para penari lainnya yang masih duduk di sofa menunggu jemputan mereka, aku segera keluar. Didepan klub sudah terpakir mobil hitam mewah berbentuk van.

“Nona Nadia? Tuan Dimas sudah menunggu dirumah.” kata seorang supir yang tak lama turun dari mobil untuk mempersilakan aku naik.

“Terima Kasih, Pak.” sambutku setelah Ia menutup pintu penumpang kemudian naik ke bangku supir.

“Kita berangkat ya, Nona.” sambungnya lagi.

Selama diperjalanan aku masih bertanya-tanya dalam hati. Siapakah Kartowardoyo itu? rasanya familiar sekali ditelingaku. Beberapa pertanyaan ini mengganggu pikiranku. Aku merasa pernah mendengar nama keluarga ini jauh sebelum aku bertemu Dimas, tapi dimana? kapan?

Entahlah, yang pasti malam ini ada satu orang yang harus aku puaskan birahinya. Dimas Kartowardoyo, seorang pemuda kaya yang akan membayarku minimal lima juta rupiah untuk sekali bercinta. Dimas Kartowardoyo, siapakah kamu sebenarnya?

***

Featured Image: Photo by Alexander Shustov on Unsplash

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: