Synchronize Fest 2017 (Day 2) – Berita Kepada Kawan

Intro.

Hari kedua Synchronize Fest 2017. Dari beberapa performer yang ingin gw tonton hari ini, salah satu yang bikin gw penasaran adalah penampilan Ebiet G Ade. Memang sedenger gw recently beberapa kali Ebiet G Ade manggung dibeberapa acara. Makanya gw penasaran, gimana sih rasanya nonton Ebiet G Ade secara langsung.

Singkat cerita, setelah berhasil menembus kemacetan dari kost Dini menuju Gambir Expo, kami sampai di TKP dengan selamat. Hari pertama kemarin, letak parkiran kami di parkir timur terlau jauh dari gate keluar yang lebih dekat ke parkir utara. Jadi gw inisiatif untuk memarkirkan mobil dekat dengan pintu keluar, biar ga terlalu capek jalannya ketika pulang.

Kami masuk sekitar 20 menit setelah adzan maghrib. Karena gw lapar, akhirnya kami cari makan dulu didalam. Menghindari nasi goreng hambar hari pertama kemarin, gw coba alternatif lain: Pecel Ayam. Harganya sama persis seperti nasi goreng kemarin, 35 ribu, tapi jauh lebih enak dimakannya.

Disela-sela makan, suara khas Om Ebiet udah mulai terdengar, mengingat jarak antara tempat makan dan District Stage yang berdekatan. Gw dan Dini menyegerakan menghabiskan makanan kami supaya ngga ketinggalan banyak lagu yang diperdengarkan oleh Om Ebiet.

Ebiet G Ade (District)

18.45
Seperti yang kita tahu selama ini, lagu-lagu Om Ebiet sering timbul terdengar di televisi sebagai lagu latar berita bencana alam. Seperti ketika bencana Tsunami Aceh 2002 silam, lagu Untuk Kita Renungkan dan Berita Kepada Kawan silih berganti mengiringi video-video amatir ketika tsunami berlangsung.

Gak lama setelah selesai makan, gw dan Dini udah berdiri nggak terlalu jauh dari depan panggung. Dengerin suaranya Om Ebiet yang syahdu dan petikan gitarnya yang khas. Suaranya masi luar biasa baik, nafasnya sama sekali nggak tersengal, nggak terdengar seperti opa-opa 63 tahun.

Ebiet G Ade on Wiki.

Dari beberapa lagu yang telah dibawakan, yang gw tahu cuma Titip Rindu Buat Ayah dan Camelia, sisanya gw nggak tahu karena nggak ngikutin banyak, hanya tau yang hits saja. Gw lumayan merinding ketika lagu Titip Rindu Buat ayah dimainkan, apalagi ketika masuk reff nya. Lagu yang sangat dramatis, tambah dramatis karena lengkingan suara Om Ebiet.

Nggak beberapa lama, ada kejadian yang amat sangat langka yang nggak gw duga bakal gw saksikan di panggung District ini. Disaat sedang membawakan lagu Titip Rindu Buat Ayah atau Camelia (tepatnya saya lupa) beberapa security berbaris membentuk pagar bahu, meminta kami untuk mundur selangkah. Gw sempet bingung, ini ada apa, “Oh mungkin ada performer yang mau lewat kali ya” dalam hati.

Setelah lagu hampir selesai, tiba-tiba keluar Bapak Presiden RI Pak Joko Widodo dari balik tirai hitam disamping panggung. Seketika penonton yang ada didekat situ berteriak histeris, termasuk gw dan Dini. Posisi kami yang hanya sejengkal dari pagar bahu para anggota pengamanan membuat gw dengan mudahnya melihat dari dekat Presiden Jokowi yang dikerubungi oleh paspampres yang melindungi beliau dari massa.

“Merupakan suatu kehormatan buat saya, karena kita sekarang kedatangan tamu istimewa, yaitu Bapak Joko Widodo” kurang lebih seperti itu sambutan dari Om Ebiet kepada Pak Presiden.

Layar besar di belakang Om Ebiet segera memunculkan wajah Pak Jokowi yang sedang berada di kerumunan penonton, tidak jauh ke kiri dari tempat gw dan Dini berdiri.

Tidak lama setelah sambutan itu, Om Ebiet membawakan lagu hits nya, Berita Kepada Kawan. Penonton histeris, termasuk gw dan Dini. Bulu kuduk gw merinding ketika intro masuk dan Om Ebiet mulai menyanyi. Sepanjang lagu dibawakan, semua sing along bersama Om Ebiet, meriah sekali kondisi saat itu.

[800x600]IMG_20171007_185318
Ebiet G Ade on District Stage

“Saya tidak menyangka bisa mendapatkan apresiasi yang sangat besar dari adik-adik generasi muda, terima kasih atas apresiasinya. Saya pikir, setelah lewat 50 tahun, saya tidak bisa lagi memberikan hiburan kepada generasi muda. Ternyata saya salah. Terima kasih, sekali lagi” kata beliau setelah lagu Berita Kepada Kawan selesai, disambut oleh riuh tepuk tangan dan teriakan penonton yang memang mayoritas anak muda.

Untuk Kita Renungkan on youtube.

Berita Kepada Kawan on youtube.

Shaggy Dog (Dynamic)

19.30
Setelah terpuaskan oleh Om Ebiet, gw dan Dini menemui adiknya karena kami sempat berpisah panggung ketika kami nonton Om Ebiet tadi. Berhubung NTRL (Netral) di Lake Stage jadwalnya masih lama, jadilah kami bertiga duduk istirahat di dekat District Stage – setelah sempat berlari-lari kecil karena hujan turun mulai deras. Kami memilih duduk disitu karena District adalah satu-satunya panggung yang punya teduhan atasnya.

Setelah sekitar setengah jam, hujan sudah mulai berhenti. Kami berkeliling melihat-lihat artists yang sedang perform di Lake dan Dynamic stage. Ketika sampai di Dynamic stage, ternyata ada Shaggy Dog lagi perform. Karena gw sedikit banyak tau lagu-lagunya Shaggy Dog akhirnya gw memutuskan untuk bergabung berdansa bersama dengan yang lainnya disitu, sementara Dini dan adiknya yang ngeliat Pak Jokowi di kursi VIP lagi ikutan nonton Shaggy Dog sibuk mendekat untuk foto Pak Presiden.

Shaggy Dog on wiki.

Shaggy Dog official website.

Shaggy Dog kemudian membawakan salah satu lagunya yang hits, Di Sayyidan. Di Sayyidan termasuk salah satu lagu mereka yang gw tau, satu lagi yang hits juga yaitu Anjing Kintamani.

Di Sayyidan on youtube.

Anjing Kintamani on youtube.

NTRL (Lake) dan The Adams (Dynamic)

21:00
Kelar berdansa di Shaggy Dog, NTRL udah siap-siap di panggung sebelahnya, Lake Stage. Sambil menunggu NTRL siap, gw dan Dini berangkat ke toilet dulu sementara adiknya stay di Dynamic Stage supaya bisa nonton The Adams lebih dekat.

Setelah selesai dari toilet, lagu Cahaya Bulan udah mulai dimainkan oleh NTRL. Dini sedikit lari-lari kecil, mengikuti gw yang menggandeng tangannya (CIE) sambil lari-lari kecil juga. Sampai di Lake Stage, gw langsung cari posisi yang enak buat nonton mereka.

Sejak 2015, Netral resmi mengganti namanya menjadi NTRL. Dikutip dari liputan6dotcom, alasan mereka mengubah nama Netral menjadi NTRL supaya kekinian. Berlainan pendapat, menurut Bimo (ex personil dan pendiri Netral) bahwa mereka ganti nama jadi NTRL karena tak mau bayar hak paten atas nama Netral.

Gw pribadi, nggak mau ambil pusing tentang perubahan nama ini. NTRL dan Netral buat gw tetep Om Bagus, Den Coky dan Bang Eno. Tetep band Punk/Alternative Rock yang gw cintai dari dulu semenjak pertama kali gw mengenal mereka, sampai sekarang.

NTRL on wiki.

NTRL on twitter.

Beberapa lagu bergantian mereka bawakan. Beberapa yang gw tahu seperti Cahaya Bulan, Cinta Gila, Sorry dan Terbang Tenggelam sukses membuat kami berdua dan penonton lainnya head banging dan loncat-loncat kegirangan.

Sayangnya karena gw keasikan jingkrak-jingkrak dan hasil foto yang kurang memuaskan, ga ada aksi NTRL yang bisa gw abadikan dan pamerin disini. But y’all should trust me that, they’re rockin my day!

21.45
Gw dan Dini ngga stay di Lake Stage sampai NTRL selesai, kami pindah ke Dynamic Stage karena lagi ada The Adams disana. Sampai di Dynamic, kami langsung bergabung bersama yang lainnya nonton The Adams Perform.

Cuma ada dua lagu yang gw tau dari The Adams, Halo Beni dan Konservatif. Sisanya gw ga ngikutin banget. Ketika kita sampai disana, nggak lama mereka membawakan Konservatif sebagai lagu penutup mereka hari itu. Gw tahu konserfativ karena dulu gw pernah ngulik lagu ini buat dibawain di acara tahunan sekolah ketika gw SMA dulu. Gw nyanyi sambil main bass waktu itu, udah gitu liriknya ga hafal-hafal (lol).

The Adams on Wiki.

Konservatif on youtube.

Elephant Kind (Lake) dan Diskoria (Gigs)

22.15
Kami kemudian jajan Thai Tea dan Siomay setelah selesai The Adams. Semua performer yang ingin gw tonton udah tampil. Tinggal menunggu pulang sambil menikmati sisa acara. Ketika itu kami pengen nyamperin adiknya dini yang ada di Lake Stage nonton Elephant Kind.

Gw denger Elephant Kind baru-baru ini banget. Sebelumnya gw belum pernah sama sekali mendengarkan lagu-lagu mereka, baru banget gw denger secara langsung disini. Kuping gw yang termasuk agak-agak selektif untuk menerima musik baru, dengan mudahnya mencerna musik mereka dan sesaat itu juga langsung suka dengan lagu mereka. They are good.

Biografi Elephant Kind on lorongmusikdotcom.

Official website Elephant Kind.

Gw langsung suka lagunya yang Oh Well, dan beruntungnya ketika cari di Spotify langsung ketemu. Pertama kali gw denger sih gw langsung kebayang sama band-band BritPop pada umumnya tapi berasal dari Indonesia, ntah orang lain sepakat atau nggak, murni pendapat pribadi gw.

Oh Well on youtube.

Karena kecapean, gw sama Dini nonton Elephant Kind sambil duduk jauh dari depan panggung (technically mendengarkan sih, karena pandangan kami terhalang oleh orang-orang yang berdiri) sampai selesai.

23.45
Singkat cerita, setelah ketemu dengan adiknya Dini, kami bertiga menyambangi Gigs Stage. Berbeda dengan panggung lainnya, Gigs Stage ini letaknya indoor. Performer dan penonton hanya dipisahkan dengan speaker-speaker, tidak ada pijakan yang lebih tinggi untuk si performer.

Adiknya Dini pengen banget nonton Diskoria. Menurut dia Diskoria membawakan lagu-lagu hits lama (mostly 90s) yang di remix Disko. Gw jadi penasaran, kayanya keren.

Sampai di Gigs Stage, kami bertiga merangsek ke depan bergabung dengan yang lainnya, waktu itu belum begitu ramai. Ketika sudah mulai ramai, gw mengajak Dini duduk dibelakang saja, karena gw berasa pengap banget waktu itu. Sementara Diskoria bersiap, gw dan Dini duduk jauh didekat pintu keluar ruangan.

Nggak lama, mereka mulai. Beberapa lagu seperti Milikmu Selalu by Andien, Bawa Daku Pergi nya Ruth Sahanaya dan Oh Kasih nya Shanty di medley dengan aransemen disko.

Karena udah kepengapan, keringetan dan pegel-pegel, gw ngajak Dini untuk keluar dari Gigs Stage lebih awal. Kami kemudian duduk lesehan disamping Gigs Stage, mendengarkan dari luar saja – sambil menunggu adiknya Dini selesai nonton mereka juga. Setelah sempet tertidur sebentar nggak lama adiknya Dini keluar dan kita pulang.

Outro.

Overall hari kedua Syncrhonize Fest ini cukup membuat gw kesenangan. Mendengarkan karya-karya para musisi Indonesia yang ga kalah ciamik dari musisi-musisi luar. Musik lintas genre dari panggung ke panggung yang disajikan oleh mereka berhasil menyihir gw, berhasil membuat gw melompat dan berteriak kegirangan. Hari ketiga semestinya lebih menyenangkan lagi. Semoga.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: