Kereta Terakhir

Stasiun Palmerah. Aku baru saja melewatkan keretaku, pintunya tepat menutup didepan wajahku. “Hah.. Sudah lari capek-capek.” Gumamku kesal. Aku terpaksa menunggu kereta selanjutnya, setengah jam lagi, kereta terakhir. Aku kemudian mencari tempat duduk, bahuku pegal menyandang tas berisi laptop yang selalu kubawa ke kantor.

Aku memilih duduk disebuah kedai roti yang tersedia tepat dibawah tangga jalan – kedai roti kesukaanku – sambil memesan roti cokelat. Jam tanganku menunjukkan tepat jam setengah 12 malam. Sudah tiga hari berturut-turut aku pulang kantor di jam yang sama. Timeline project yang sangat sempit menuntutku untuk kerja lebih keras demi mengejar deadline yang tinggal 45 hari lagi. Parahnya, kemarin aku hampir melewatkan kereta terakhir. Berbeda dengan malam ini, mestinya aku akan berhasil naik ke kereta terakhir.

Rotiku telah disajikan, bersama segelas teh hangat yang kupesan belakangan. Roti cokelat ini sangat enak, karena disajikan dengan hangat. Sebelum disajikan, roti cokelat ini terlebih dulu dimasukkan kedalam microwave untuk dihangatkan. Dengan kondisi hangat, cokelatnya meleleh didalam mulut ketika dimakan, memberikan sensasi luar biasa bagiku yang suka sekali dengan cokelat. Roti di kedai ini selalu jadi pilihan pertamaku sebagai pengganjal rasa lapar ketika pulang kantor.

Sambil menunggu kereta terakhir, aku membuka laptopku untuk follow up beberapa email penting dari beberapa perwakilan kantor klien yang belum sempat terbalas ketika dikantor tadi. Beberapa perwakilan kantor klien itu meminta aku untuk mengirimkan dokumen teknis terkait beberapa modul yang sedang kami kerjakan. Syukurlah, Aku sudah menyelesaikan semua dokumen yang diminta hari ini tadi, hanya tinggal mengirimkannya saja.

Tepat digigitan terakhir, pengumuman kedatangan kereta sudah disuarakan. Aku segera menghabiskan teh hangatku dan menutup laptopku, bersiap untuk berdiri kedekat peron. Aku kemudian mengambil iPod-ku dari dalam tas, memasang earphone dan mulai memasang playlist favoritku. Tidak lama kemudian, kereta datang. Diawali dua gerbong wanita, diikuti gerbong-gerbong berikut dibelakangnya, sampai sempurna berhenti. Gerbong ke lima, gerbong dimana aku tepat berdiri didepannya. Pintu terbuka dan aku kemudian memasuki kereta, mencari tempat duduk yang tersedia. Sayangnya, semua kursi penuh. Tak apa, gerbong masih cukup lowong untuk berdiri. Tidak penuh sesak seperti pada saat aku berangkat pagi tadi.

Pintu kereta tertutup dan kereta mulai berjalan maju perlahan, sampai pada kecepatan maksimalnya. Aku berdiri didekat pintu. Dari sini aku bisa melihat suasana diluar. Pukul 12 malam, lalu lintas diluar sudah lumayan lengang, hanya tersendat beberapa titik lampu merah saja.

Aku sangat suka berdiri didekat pintu kereta. Selain karena bisa memandang suasana diluar kereta lewat jendela, aku juga bisa memantau beberapa penumpang lewat pantulan kaca jendela. Dengan begitu, aku bisa mengawasi apabila ada orang dengan gerak gerik mencurigakan. Meskipun petugas kemaanan sering lalu lalang, masih sering terjadi pencurian dengan berbagai macam modus. Dari merogoh celah tas yang terbuka, sampai menyilet bagian tas untuk mengambil barang berharga didalamnya. Bahkan beredar cerita terjadi penodongan ketika kereta sedang ramai dengan cara menempelkan pisau ke punggung korban sambil berbisik: “Jangan berteriak, cukup serahkan harta anda kepada saya atau saya akan menyakiti anda, bahkan sampai diluar kereta ini”. Ngeri memang.

Sambil memperhatikan jalanan diluar, sambil sesekali aku melihat refleksi para penumpang lewat pantulan kaca jendela. Aku mulai menyapu pandanganku terhadap beberapa orang disekitarku. Sampai pada satu orang yang membuatku terpaku. Seorang gadis yang tidak asing lagi bagiku. Ya, itu pasti dia, gadis yang pernah hilang begitu saja dari kehidupanku.

***

“Aditha Paramitha?” pembina kelas A mulai mengabsen. Gadis disebelahku mengangkat tangannya.

Rambutnya lurus hitam, diikat kebelakang. Kulitnya putih, alisnya tebal, parasnya manis. Entah jatuh cinta atau bukan, aku tidak tahu. Yang pasti pada waktu itu beberapa kali kami bertukar tatap, atau lebih tepatnya dia memergokiku ketika aku memperhatikannya.

Kami para mahasiswa baru dibagi menjadi beberapa kelas, dari kelas A sampai kelas J. Setiap pagi, sebelum kegiatan ospek dimulai, masing-masing kelas dibariskan di lapangan kampus. Setiap kelas dibagi menjadi dua barisan. Aku berada di baris kiri kelas B, sementara gadis disebelahku merupakan gadis dibarisan kanan kelas A.

“Oh, Mitha ya.” ujarku tanpa sadar. Bodoh memang.

Aku refleks menutup mulutku. Sial, aku baru saja melakukan kebodohan pertama di hari pertama masuk universitas. Gadis disebelahku itu pun refleks menoleh kepadaku, “Boleh saja. Dirumah aku dipanggil Aditha, tapi Mitha boleh juga.” Ya Tuhan senyumnya manis sekali..

“Eh.. Maaf. Aku sama sekali tidak bermaks..”

“Perkenalkan, aku Aditha Paramitha, kamu boleh memanggilku Ditha, Mitha pun tak apa.” sambil menjulurkan tangannya padaku.

Aku membalas menjulurkan tanganku padanya. Tangannya mungil, jari kukunya mengkilat meskipun tanpa kuteks, permukaan tangannya halus sekali. Ini kali pertama dalam hidupku memegang tangan wanita selain ibuku sendiri.

“Na.. namaku Fa..”

“Farhan Budiman? Farhan Budiman? Apakah Farhan Budiman hadir hari ini?” aku refleks melepaskan tanganku dari tangan Mitha kemudian mengangkat tanganku. Sial, aku sama sekali tidak mendengar pembina kelasku mengabsen.

“Farhan. Tolong perhatikan ya ketika kami sedang mengabsen! Jangan asyik saja berkenalan, mentang-mentang cantik tuh sebelahnya.” kata pembina kelasku menggunakan pengeras suara. Seisi lapangan kemudian tertawa sambil melihat ke arahku. Memalukan.

“Oh, Farhan ya.” kata Mitha, meniru perkataanku sebelumnya sambil ikut tertawa bersama yang lainnya. Bedanya, ketika aku benci ditertawai yang lain, aku malahan sangat bahagia ditertawai Mitha. Aku sepertinya memang sedang disengat cinta.

Hari itu otomatis jadi hari paling memalukan sekaligus paling membahagiakan buatku. Aku baru saja bertemu dengan seorang gadis yang sangat aku kagumi, bernama Mitha. Setiap kegiatan baris berbaris pada pagi hari, aku selalu mencari kesempatan untuk berdiri disampingnya, dan beruntung, aku selalu berhasil. Semakin hari kami pun semakin akrab.

Sudah menjadi tradisi bahwa setiap dari kami para mahasiswa baru, diwajibkan untuk membawa bekal makanan dan minuman dari rumah pada saat ospek. Apabila tidak membawanya kami akan dihukum dengan cara push up sepuluh kali sambil mengucapkan dengan lantang kesalahan yang kami perbuat. Pemeriksaan kelengkapan akan dilakukan setiap pagi ketika kami berbaris di lapangan.

Dihari ketiga, beberapa saat sebelum pemeriksaan dilakukan, Mitha terlihat panik sambil membongkar isi tas nya, “Aku yakin, Han. Tadi pagi aku sendiri yang membawa bekalku kedalam mobil Ayah.” suara Mitha bergetar.

“Coba kamu cari dulu pelan-pelan, Mith. Jangan panik dan terburu-buru seperti itu.”

“Hah.. Tidak ada. Aduh aku harus bagaimana ya. Aku takut dihukum, Han. Lagian aku tidak mahir push up. Aku yakin semua orang akan tertawa melihat gaya push up ku yang aneh itu.”

Para pembina sudah memulai pemeriksaannya. Dimulai dari barisan depan, satu per satu sampai barisan belakang. Mitha yang tetap yakin bahwa dia membawa bekalnya kembali memeriksa tas nya, namun kembali kecewa karena kenyataannya bekalnya tidak ada disitu. Sementara itu, para pembina kelas sudah semakin mendekat ke barisan tempat kami berdiri. Mitha pun semakin panik.

“Ini, ambil bekalku.” Dengan cepat aku memindahkan kantung bekalku ke tempat Mitha berdiri. Sepersekian detik sebelum pembina kelas selesai memeriksa mahasiswa yang berdiri didepan Mitha.

“Hei, Kau tak perl..” Tak sempat Mitha menyelesaikan ucapannya, pembina kelas sudah mengangkat kantung bekalku yang berada didekat kaki Mitha.

“Ini bekalmu Mitha? Okay, Check. Lengkap ya.” kata pembina kelas A. Tanpa ragu kemudian Ia mengisi daftar kelengkapan Mitha.

“Farhan! Kau tak perlu melakukan itu. Sekarang kau bagaimana? Apa kamu mau dihukum hah?” bisik Mitha sambil melotot ke arahku. Tidak sempat aku menenangkannya, pembina kelasku sudah selesai memeriksa mahasiswa didepanku kemudian berpindah kedepanku untuk memeriksa bekalku.

“Dimana bekalmu, Farhan?”

“Maaf Kak, Aku lupa membawanya. Hari ini Ibuku pergi kerja lebih awal, jadi tidak sempat menyiapkan bekal untukku. Aku pun tidak sempat menyiapkannya karena kesiangan, jadi buru-buru berangkat.” Kataku sambil menunduk.

“Sayang sekali, Farhan. Silakan maju kedepan sekarang.”

Aku kemudian meninggalkan barisan dan menuju kedepan. Hari pertama aku ditertawakan oleh seluruh orang dilapangan, hari ketiga aku pun sebentar lagi akan jadi bahan tertawaan – untuk kedua kalinya. Tak apa, yang penting bukan Mitha yang ada diposisiku sekarang. Aku tidak mau dia merasakan hal ini.

Ketika aku berada di depan, Mitha tidak berhenti menatapku, atau lebih tepatnya melotot ke arahku, seakan-akan berkata: “Kenapa kamu melakukan kebodohan ini demiku?!” aku hanya membalasnya dengan senyum. Mungkin ini adalah pengorbananku pada Mitha untuk pertama kalinya. Aku sama sekali tidak merasa menyesal, aku tulus melakukannya.

Aku dan beberapa orang dari kelas lainnya sudah berdiri didepan. Siap menanti hukuman. Para pembina dari masing-masing kelas sudah selesai memeriksa barisan terakhir dan kembali ke depan barisan. Ketua pembina kemudian menaiki podium dan mulai berbicara didepan pengeras suara.

“Hari ini, ada sepuluh pelanggar. Bertambah tujuh dari kemarin yang hanya ada tiga. Apabila baru hari ketiga di universitas saja kalian sudah tidak disiplin, bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya? Di tanah tempat kalian berdiri ini, di gedung yang kalian tatap didepan kalian ini, adalah tempat awal kalian menginjakkan kaki di dunia nyata. Tempat menuntut Ilmu, tempat mengasah pola pikir, modal utama kalian untuk mengadu nasib diluar sana. Hormatilah tempat ini dengan senantiasa mengedepankan kedisplinan, karena disiplin adalah awal kesuksesan.”

Aku dan 9 orang lainnya menunduk mendengarkan. Bersikap patuh, demi menjaga mood ketua pembina agar tidak lebih marah dari ini.

“Hukuman untuk kalian hari ini akan saya tambahkan dari hari kemarin. Kalian dihukum untuk push up 20 kali, sambil dengan lantang meneriakkan kesalahan kalian hari ini. Pembina kelas, dimohon untuk memperhatikan hitungannya.”

Tidak perlu berlama-lama, aku sudah dalam sikap push up. Setiap bangun pagi, aku memang terbiasa Push Up, minimal 50 kali. Jadi push up 20 kali bukanlah masalah besar bagiku. Namun ternyata kesombonganku itu dipatahkan oleh kenyataan. Ini Tidak semudah bayanganku, push up ini dilakukan di lapangan terbuka beraspal. Tangan kami yang menjadi tumpuan berat, mau tidak mau menyentuh aspal yang lumayan panas terkena terik matahari. Aku memulai push up ku sambil berteriak: “Aku tidak membawa bekal hari ini” sebanyak 20 kali. Capek rasanya, ditambah tanganku yang bersentuhan langsung dengan aspal. Tapi tak apa, ini demi Mitha.

Singkat cerita, Aku dan Mitha akhirnya berpacaran beberapa bulan kemudian. Kami semakin dekat karena pada saat perkuliahan dimulai kami selalu berada di kelas yang sama. Kejadian pertemuan kami di hari pertama ospek universitas itu masih sering jadi bahan tertawaan kami berdua. Mitha senang sekali mengejekku karena kejadian itu, “Cie yang grogi pas salaman sama aku.” Aku tertawa geli menanggapinya. Hari-hariku begitu bahagia bersama Mitha, setidaknya sampai kami di wisuda. Setelahnya, petaka sedikit demi sedikit menghampiri kami.

***

Aku sangat yakin dengan apa yang aku saksikan lewat pantulan kaca kereta. Gadis itu berdiri di belakangku, agak kekiri sedikit, memegang smartphone dengan tangan kirinya dan menyandarkan bahu kanannya ke tiang metal yang berada tepat di tengah. Tangan kanannya dimasukkan kedalam kantong sweater merahnya, sweater yang dulu sering Ia pakai ketika membonceng motorku.

“Mitha? Aditha Paramitha?” aku memberanikan diri untuk mendekat ke tempat Ia berdiri dan menyapanya.

“…. Ya?” gadis itu mengangkat wajahnya. Tidak salah lagi, Ia memang Mitha.

“Hey! Apa kabar? Kamu ingat aku kan? Farhan. Farhan Budiman.” Kataku antusias. Seantusias itu sampai-sampai beberapa penumpang menoleh kearahku.

“Farhan! OMG ini benar Farhan, Kan? Farhan Budiman. Sudah lama sekali kita tidak bertemu!” Mitha tidak berubah, tetap cantik dan lucu ketika berbicara, “Aku baik, Han. Kamu bagimana?”

“Aku juga baik, Mith.” Kali ini aku yang menjulurkan tanganku duluan untuk berjabat tangan dengannya, dilanjutkan dengan bertubi-tubi pertanyaanku, “Kamu tinggal dimana sekarang? Kerja dimana? Kapan kamu sampai ke Indonesia? Bukankah terakhir kamu ada di Belanda bersama keluargamu? Apakah kamu selesai kuliah disana?”

“Wow wow, take it easy bro!” Kata Mitha sambil tertawa manis, menenangkanku.

“Hahaha.. Sorry, Mith. Aku antusias sekali bertemu denganmu.”

“It’s okay, Han. Aku seminggu yang lalu kembali ke Indonesia. Kembali ke tempat tinggal lamaku di Tangerang Selatan. Setelah lulus kuliah aku mendapatkan kerja di salah satu perusahaan di Belanda. Kebetulan perusahaan itu memiliki cabang di Sudirman, Jakarta. Selang setahun bekerja, aku dipromosikan dan mendapatkan kesempatan untuk mengurus cabang Jakarta, Han.” kata Mitha sambil tersenyum.

“Wow, it’s a good thing, Mith. Jabatanmu sudah tinggi dong ya sekarang?” Sambutku.

“Doakan saja ya semuanya lancar ya, Han. By the way, bagaimana denganmu?”

“Kehidupanku di Jakarta yaaah, begini saja, Mith. Aku bekerja di salah satu IT Consultant perbankan. Beberapa tahun bekerja akhirnya aku diangkat menjadi Project Manager. Sekarang ini aku lagi sibuk menangani project salah satu bank besar di Jakarta, di Sudirman juga, sama sepertimu.” Gantian aku bercerita.

“Wah, sudah sukses ya kamu, Han. Kalau sama-sama berkantor di Sudirman, bolehlah sesekali kita makan siang atau minum kopi bersama, Han. Sudah lama kan tidak makan siang barsamaku?” Kata Mitha sambil terkekeh.

“Hahaha, semenjak aku kehilangan kabarmu ketika kamu di Belanda, aku sudah membuang jauh-jauh harapanku untuk bisa – paling tidak – makan siang bersama kamu lagi, Mith.” Entah mengapa nada bicaraku sedikit menurun. Aku memang selalu sensitif setiap mengingatnya.

“Aku minta maaf, Han..” ucap Mitha, dengan nada yang tidak kalah rendah. Suasana kecerian pertemuan itu tiba-tiba berubah drastis menjadi sendu, bak mendung yang tiba-tiba hadir menutup kilau matahari.

“Kamu tidak pernah bisa dihubungi semenjak saat itu. Tidak ada satupun emailku yang kamu balas. Bahkan emailku yang menyatakan hubungan kita berakhir pun tak kamu gubris sama sekali. Sampai sekarang pun, bertahun-tahun setelahnya, aku tidak pernah mendapatkan jawaban ataupun alasan darimu, kenapa kamu waktu itu tiba-tiba menghilang.” Nadaku tiba-tiba meninggi, emosional.

Mitha menatapku, air matanya keluar begitu saja, Ia segera menghapusnya lalu kemudian menunduk, “Maaf, Han. Waktu itu kondisinya sulit sekali.”

“Maaf, aku jadi emosional seperti ini. Kejadian itu sudah lama sekali, seharusnya aku sudah menguburnya dalam-dalam. Tidak membahasnya lagi dengan siapapun itu. Maaf, Mith.” kataku, berusaha mengatur emosi.

Kami berdua kemudian bertukar diam. Sambil menunduk atau sesekali melihat ke arah lain. Aku tak tahu apa yang ada dalam hati dan pikiranku sekarang. Aku bertemu seseorang dari masa laluku yang belum selesai. Aku tak pernah menganggap hubunganku dengan Mitha selesai, tapi kenyataannya hubungan itu sebenarnya sudah tidak ada sejak lama. Kisah kasih kami berhenti begitu saja ditengah jalan tanpa ada kejelasan. Tumpukan pertanyaan masih mengantri untuk diberikan jawabannya didalam hati kecilku. Tentang apa yang terjadi dengan Mitha, apa yang terlintas dipikirannya ketika begitu saja meninggalkanku, apa alasannya, apakah cinta kami bisa berlanjut atau tidak, semua pertanyaan itu sudah mati tanpa jawab sejak lama. Kini bangkit kembali di kereta terakhir ini.

“Sesaat lagi kereta akan memasuki stasiun Jurangmangu.” Suara tanda pemberhentian seketika memecah sikap diam kami berdua,

“Ini stasiun tujuanku, Han.” kata pembuka pertama dari Mitha setelah lima belas menit dalam diam.

“Baiklah, Mith.” kataku, kebingungan memilih kata-kata balasan.

Sambil tetap berpegangan dengan tangan kirinya, tangan kanannya dikeluarkan dari sweater merahnya, meraih tiang metal disebelahnya. Tangan mungil itu tetap kutemukan pada dirinya, jari jemari kecil yang dulu saling silang dengan jemariku, pernah sempat kulupakan namun kini kurindukan.

Pintu terbuka, “Farhan Budiman, aku duluan ya. Hati-hati dijalan.” Mitha melangkah turun dari kereta.

“Terima Kasih, Mith. Kamu juga hati-hati.” Sambutku pelan. Pintu kereta kembali tertutup. Aku tetap memandang ke jendela, memandang wanita yang dulu aku kagumi. Kereta perlahan melaju melanjutkan sisa perjalanan. Menjauhi Mitha yang semakin lama semakin kecil ditelan jarak pandang.

Aku kemudian sadar akan satu hal, aku menemukan satu perbedaan dari jemari Mitha tadi. Ada pantulan cahaya dari jari jemari tangan kanannya, pantulan cahaya dari sebuah cincin permata cantik yang terpasang di jari manisnya.

***

Paginya, aku terbangun dari tidurku. Aku hampir sempurna lupa tentang kejadian dini hari tadi ketika di kereta. Aku kemudian meraih smartphone ku, mendapati notifikasi pesan e-mail masuk yang setengah jam lalu menggangu tidurku.

“Dear Farhan,

Aku akan menikah siang nanti. Aku menikah dengan pria pilihan kedua orang tuaku. Mereka memilihkan pria ini untukku karena mereka lebih suka pria lulusan master di Belanda – teman kuliahku sekaligus anak dari rekan kerja ayah – daripada kamu yang dulu hanya lulusan strata satu di universitas swasta. Pria ini lebih bergengsi dan terpandang, kata mereka.

Orang tuaku dan Pria inilah alasanku mengapa aku menghilang begitu saja pada waktu itu, Semua perangkat komunikasiku disusupi dan dipantau oleh calon suamiku ini, semua yang beruhubungan dengan kamu dihapus olehnya, termasuk draft emailku menanggapi emailmu yang mengakhiri hubungan kita.

Maaf, Han. Semuanya menjadi seperti ini.

Yang harus kamu tahu bahwa, Aku tidak pernah berhenti mencintai kamu. Tidak akan pernah berhenti sampai aku mati sekalipun. Kamu harus tahu itu, Farhan Budiman.

NB: Jika memang cintamu masih ada untukku, tolong selamatkan aku, Han. Gereja Katedral Jam 1 siang.

Love, Aditha Paramitha”

Aku terdiam sejenak, terduduk di tepi tempat tidur. Kemudian dengan yakin menghapus email itu. Dari mulut pintu kamar tidurku, permaisuri kecil kesayanganku datang berlarian kearahku, “Ayaaaah, selamat pagi. Ini hari sabtu kan, Yah? Kalau begitu ini adalah hari piknik! Hore! Kita piknik kemana hari ini, Yah?” Aku kembali ke posisi tertidur demi menangkap lompatannya.

“Nak, ayahmu baru saja bangun. Kita bicarakan rencana piknik hari ini sambil sarapan ya, Nak? Sekarang kita ke dapur, bantu Ibu menyiapkan sarapan buat kita bertiga. Mitha setuju kan?”

“Horeeeee! Sarapaaan! Aku lapar, Bu. Ayo Bergegas.” kata Mitha.

Konon, gerbong kereta pun dengan magisnya dapat mendatangkan nostalgia cinta lama. – ARA

***

Featured Image: Photo by Rohit Munshi on Unsplash

Advertisements

2 thoughts on “Kereta Terakhir

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: